Adakah yang telah hilang?

Alangkah uniknya hidup ini. Setiap peristiwa baru adalah stasiun kenangan. Tempat setiap orang memutar kembali ingatan masa lalunya, baik atau buruknya, biasa atau istimewanya. Tempat kita menyimpan catatan tentang apa yang datang dan hilang dari kita, hari kemarin. Setiap peristiwa adalah sumbu-sumbu bagi kantong-kantong kenangan itu. Tempat kita menyalakan ingatan, dengan segenap emosi kita, tentang apa yang singgah dan pergi dalam hidup, selama ini.

Maka setiap kali ingatan yang dulu terekam berputar kembali, berjuta rasa bisa saja berkecamuk dalam jiwa kita. Sedih, luka, bahagia, atau bahkan rasa kehilangan yang sangat mendalam. Kenyataan ini menjelaskan salah satu prinsip penting, bahwa gari-garis hidup temyata tidak datar. Tiba-tiba saja seseorang telah meninggi jauh, meninggalkan posisinya kemarin pagi. Tiba-tiba saja, seseorang berubah menjadi sosok yang lain dari kemarin-kemarin.

Karenanya pada hari ketika Umar bin Abdul Aziz dilantik menjadi khalifah, ingatannya akan masa lalu hadir melipat-lipat seluruh batinnya. Secepat itu kenangan tentang dirinya dahulu hadir, pada detik-detik sangat bersejarah dalam hidupnya. Betapa ia kini bukan yang dulu lagi: seorang Umar yang necis, dari keluarga terpandang, dan bisa bersenang-senang dengan harta dan kehormatan yang melimpah.

Pada hari itu pula ia menulis surat panjang pada anaknya, Abdul Malik, di Madinah. Ia tumpahkan seluruh isi hatinya, "Ayahmu dulu, seperti orang umumnya, tinggal bersama para saudaranya di sisi orang tuanya. Saudara ayahmu yang besar mengasihi ayahmu.  Saudara yang kecil mendekat dan minta dinaungi. Bila kemudian Allah memberi ayahmu ini nasib yang baik, segala puji bagi-Nya, dan aku pun rela menerimanya." Umar melanjutkan, "Lalu kamu pun lahir. Lahir pula saudara-saudaramu, Aku pun tetap tinggal di rumah itu bersama kalian. Tidak pernah aku meninggalkan rumah yang dari dulu aku tempati itu."

Seperti juga Umar bin Abdul Aziz, setiap kita mungkin pernah mengalami perubahan hidup, yang membuat kita kehilangan sebagian dari masa lalu kita, kehilangan apa-apa yang dulu kita miliki. Bahkan mungkin kehilangan jati diri kita. Dari orang biasa menjadi orang luar biasa. Atau sebaliknya, dari orang luar biasa menjadi orang yang biasa. Dari status yang satu ke status yang lain.

Suasana hidup bersama saudara, dalam suasana yang tanpa beban, seperti dialami Umar bin Abdul Aziz terasa hilang ketika ia harus menjadi khalifah. Ia seperti kehilangan hari-hari ketika ia merasa hanya seorang anak, bermain bersama saudara. Lalu ia besar, menikah, dan kemudian punya anak. Lalu lahir pula anaknya yang lain, satu demi satu. Bahkan ia nyaris tak pernah tinggal selain di rumah tuanya itu. Begitu pula kita. Ingatlah ketika dahulu kita masih kanak-kanak. Sebagian besar kita mungkin bermain, dengan tanpa beban. Ayah dan ibu kita mungkin sesekali memarahi kita. Tetapi kasih dan sayangnya begitu teduh. Cinta dan pemberiannya begitu luas. Mungkin di antara kita, kala kecil dulu, tak semujur itu. Menghabiskan masa kecil adalah perjuangan berat melawan arogansi orang-orang dewasa yang kejam. Kita terlampau cepat renta sebelum waktunya. Tak ada belaian ibu atau uang saku dari ayah.

Lalu hari ini, tiba-tiba kita telah menjadi seperti ini. Menjadi diri kita yang hari ini. Menjadi pegawai? Pedagang? Direktur? Petani? Sekretaris perusahaan bonafid? Mahasiswa? Politisi? Ibu rumah tangga? Karyawan? Orang terkenal? Orang biasa?

Mungkin ayah atau ibu sebagian kita sudah perqi selamanya. Mungkin sebagian kita tak lagi bisa dekat dengan sanak saudara. Sebab semua sudah sibuk dengan urusannya sendiri. Kita yang dahulu hidup di dunia yang ramai dan ramah, seperti merasakan kesepian yang memagut-magut perasaan, sedetik demi sedetik.

Tetapi Umar bin Abdul Aziz mengajarkan pada kita hal yang jauh lebih penting dari sekadar kehilangan sesuatu dari diri dan kehidupan ini. Ialah bagaimana menyikapi kehi-langan itu. Bagaimana bertindak menghadapi sebuah kehilangan dan perubahan yang pasti terjadi pada setiap orang. Umar tidak larut pada perubahan diri dan status yang cukup mengguncang itu. Ia tidak tenggelam dalam kegalauan pribadi menghadapi hari baru, status baru, tugas baru dan dunia baru sebagai khalifah. Meski sepenuhnya sadar, bahwa ia harus kehilangan hari kemarin, status yang kemarin, suasana kemarin, dan segala hal yang dahulu menyertainya. Dalam statusnya sebagai 'hanya' seorang anak keturunan Bani Umayyah yang bisa bersenang-senang di lingkungan kekuasaan Bani Umayyah yang megah.

Umar mendeklarasikan jati dirinya yang baru. Sebab dunianya yang baru tidak bisa ia hadapi dengan dunianya yang lama. Sebab tantangan hidupnya yang baru, tidak bisa ditundukkan dengan kebesarannya di masa lalu. Umar benar-benar mencari pengganti kehilangan itu, dengan sesuatu yang jauh lebih baik. Maka bila dahulu ia bergelimang harta, sejak detik itu ia meneguhkan diri, sepenuh hati, sekuat jiwa untuk mengejar akhirat, mengingat kematian, dan menyelimuti seluruh jiwanya dengan rasa takut yang mendalam akan hari perhitungan. Tak heran, bila salah seorang sahabatnya, Abu Yunus bin Abi Syabib berkata, "Dahulu aku menyaksikan Umar bin Abdul Aziz, bila melakukan thawaf, maka kain sarungnya terseret panjang. Tapi setelah menjadi khalifah, kalau aku mau, aku bisa menyentuh rusuknya tanpa ada sarung yang menutupinya.

Umar melanjutkan suratnya untuk anak-nya, dengan menuliskan sesuatu yang sebenarnya juga untuk dirinya, bahwa detik inilah saatnya, bila ia ingin menjadi dirinya yang baru. "Maka, barang siapa yang ingin mengejar surga dan ingin berlari dari neraka, sekarang inilah saatnya. Saat taubat masih bisa diterima. Saat dosa masih bisa diampuni. Sebelum ajal memenggal, sebelum amal terputus, sebelum Allah menghitung perbuatan manusia, di tempat yang tak diterima lagi persembahan, tidak berguna lagi alasan-alasan. Yang tersembunyi menjadi nampak. Syafa'at tidak berfungsi lagi. Manusia berbondong-bondong dengan amal perbuatannya. Datang dengan bercerai-berai menuju  kedudukannya masing-masing. Maka beruntunglah hari itu mereka yang mentaati Allah. Dan binasalah mereka yang memaksiati Allah. "

Deklarasi diri itu ia taati. Maka kemudian Umar bin Abdul Aziz pun melegenda dengan kepemimpinannya yang adil, kezuhudannya yang paripurna. Lantas itu semua jauh lebih dikenal sejarah daripada kebesarannya dahulu, ketika ia menjadi pemuda pesolek dari keluarga istana yang gemerlapan.

Dalam surat yang sama Umar bin Abdul Aziz menegaskan, "Wahai anakku, bila engkau diuji Allah dengan kekayaan yang melimpah, sederhanalah engkau dalam menggunakan hartamu. Rendahkanlah dirimu di hadapan Allah. Tunaikan kepada Allah, kewajiban-kewajibanmu pada hartamu untuk hak-hak-Nya. Katakan ketika itu, apa yang dikatakan seorang hamba yang shalih, 'Ini semua adalah atas karunia Allah, untuk menguji aku, apakah aku akan bersyukur atau akan menjadi kufur.'"

Tetapi tidak semua orang bisa setegar Umar, secerdas Umar, dan setangguh Umar. Mungkin masih banyak di antara kita yang kehilangan masa lalu, dengan segala kenangan indahnya, kehilangan keahlian dan kecakapan profesional, yang dulu menjadi merek dirinya yang melegenda: sang demokrat, misalnya, sang pengusaha bertangan dingin, misalnya, sang kreator perubahan sosial, misalnya, atau bahkan, sang anak manis yang berbakti dan jujur pada kedua orang tuanya. Sebabnya adalah, setiap orang pasti kehilangan sebagian atau seluruh dirinya, yang ia miliki dahulu. Tetapi tidak semua orang bisa mencari pengganti bagi kehilangan-kehilangan itu, pada hari-harinya yang baru atau statusnya yang baru.

Itu sebabnya, mengapa yang sukses menjadi bujangan, belum tentu sukses menjadi suami atau istri. Yang sukses menjadi ilmuwan, belum tentu sukses menjadi praktisi. Yang sukses di tengah dekapan ayah ibunya, belum tentu sukses melawan kesendirian, bahkan mungkin kelak, ketika ia sendiri yang berganti menjadi orang tua. Karena tidak semua orang bisa mengakhiri dengan baik sebuah kebesaran. Sebagaimana tidak semua orang bisa menyambung sebuah kebesaran lama, dengan kebesaran baru, akibat siklus hidup yang terus berganti, berputar, dan menyeret kita ke dalam dunia yang benar-benar bukan yang dulu.

Sebuah kesuskesan dan kebesaran, seringkali melegenda dalam sebuah dinasti atau usia tertentu. Tetapi kebesaran itu hilang dan sirna karena tak kuasa menghadapi jaman baru, situasi baru, kondisi baru, dan takdir-takdir baru. Ini sepertinya membuat kita harus memaknai lebih rumit perjalanan hidup kita. Tak mengapa. Bukan soal rumitnya, tentu. Sebab, bisa jadi kita begitu hanyut dalam rutinitas, atau sebaliknya, terjerembab dalam perubahan dan persaingan hidup yang sangat keras, tanpa kita menyadari, betapa ternyata telah begitu banyak yang hilang dari diri kita. Betapa, ternyata, kita bukan yang dulu lagi. Bukan pula kita yang baru, dengan kebesaran yang benar-benar baru.

Sekali lagi, sejujurnya kita memang harus bertanya, adakah yang telah hilang dari diri kita?

Wallahu'alam-


Trims atas warning ini...

                            

Indonesia, Im COMING!!!!

Well, im still waiting for my departure in KLIA (Kuala Lumpur International Airport) right now.. Hmm,, i miss you so much indonesia! i miss  you mom and dad and my little sister and brother! i miss all of you guys (hey, what had happened in campus?) i miss indonesian foods of course!!

Well, just to know that we have to proud to be indonesian! i had a nice talk with the ambassador when i was in KBRI.. a nice talk when i met ex-sekjen PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) when friends and i have finished our dinner with Budi Sudarsono (pemain bola indonesia kelahiran kediri, lho?)

Hemm,, i love the "night lamps" in that country but i hate some things..

But that's okay!

Hehe

See my adventure at www.callmeai.wordpress.com

(coming soon)

Ketika Megawati Ingin Kembali

Ketika Megawati "eksis" lagi di media cetak dan elektronik... Ketika Megawati kembali ingin memimpin negara ini....

(Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin)

Dari Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu, telah berkata Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:

“Tidak akan beruntung suatu kaum (bangsa) manakala menyerahkan urusan (kepemimpinan) nya kepada seorang wanita.” Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Imam Ahmad rahimahullahu dalam Musnad-nya no. 19507, 19547, 19556, 19573, 19603, 19612; Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam Kitabul Maghazi bab Kitabi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ila Kisra wa Qaishar no. 4425, Kitabul Fitan no. 7099, Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullahu dalam Kitabul Fitan an Rasulillah no. 2188, Al-Imam An-Nasa`i rahimahullahu dalam kitab Adabul Qudhah no. 5293. Jalur Periwayatan Hadits Hadits ini diriwayatkan dari jalan Mubarak bin Fadhalah Abu Fadhalah Al-Bashri, ‘Auf bin Abi Jamilah Al-Bashri, Humaid bin Abi Humaid Ath-Thawil, semuanya meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu, dari Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan terdapat riwayat lain yang diriwayatkan dari jalan Ahmad bin Abdul Malik Al-Harani yang meriwayatkan dari Bakr bin Abdul Aziz, dari Abu Bakrah, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Juga dari jalan ‘Uyainah bin Abdurrahman Al-Ghathafani, dari ayahnya, dari Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Jalan Periwayatan Hadits Dalam hadits ini terdapat riwayat Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu dari Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu. Para ulama ahlul hadits seperti Al-Imam Ahmad, Abu Zur’ah, Abu Hatim, ‘Ali ibnul Madini rahimahumullah mempermasalahkan periwayatan beliau dari para sahabat seperti Ibnu ‘Abbas, Abu Hurairah, Jabir bin Abdillah, Abu Sa’id Al-Khudri, ‘Ali bin Abi Thalib, dan ‘Utsman bin ‘Affan g, bahwa Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu tidak mendengar (meriwayat)-kan dari para sahabat yang disebutkan tadi. Qatadah rahimahullahu berkata: “Demi Allah, tidak pernah Al-Hasan Bashri rahimahullahu menyampaikan hadits kepada kami dari para ahli Badr secara langsung.” Namun riwayat beliau dari Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu telah ditetapkan sebagai riwayat yang sah atau akurat. Meskipun dalam hadits ini bentuk periwayatan dengan menggunakan kata “dari” yang mengandung kemungkinan (mendengar langsung atau tidak). Akan tetapi Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu berkata setelah menyebutkan hadits no. 2704 dalam Kitab Ash-Shulhi bab Qaulin Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam lil Hasan ibn ‘Ali: “Ali bin Abdullah Al-Madini telah berkata kepadaku: bahwa mendengarnya Al-Hasan Al-Bashri dari Abu Bakrah telah pasti bagi kami dalam hadits ini.” (Fathul Bari, 5/375) Al-Hafizh rahimahullahu berkata bahwa sanad hadits di atas semuanya adalah orang-orang Bashrah. Dan telah berlalu pada Kitab Ash-Shulhi pendapat yang menyatakan bahwa Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu telah mendengarkan dari Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu. (Fathul Bari, 13/67) Sebab Periwayatan Hadits Hadits ini mempunyai sebab periwayatan. Diriwayatkan dari Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu, bahwa dia mengatakan: لَقَدْ نَفَعَنِي اللهُ بِكَلِمَةٍ سَمِعْتُهَا مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّامَ الْجَمَلِ بَعْدَ مَا كِدْتُ أَنْ أَلْحَقَ بِأَصْحَابِ الْجَمَلِ فَأُقَاتِلَ مَعَهُمْ. قَالَ: لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى، قَالَ: لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً “Allah telah memberikan manfaat kepadaku dengan sebab suatu kalimat yang aku dengar dari Nabi pada saat terjadinya fitnah Perang Jamal. Di mana waktu itu hampir-hampir aku akan bergabung dengan Ashabul Jamal (pasukan yang dipimpin ‘Aisyah radhiyallahu 'anha) dan berperang bersama mereka.” Lalu beliau berkata: “(Yaitu sebuah hadits) ketika disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa Kerajaan Persia telah mengangkat putri Kisra sebagai raja mereka. Beliaupun bersabda: ‘Tidak akan beruntung suatu kaum (bangsa) manakala menyerahkan urusan kepemerintahannya kepada seorang wanita’.” (HR. Al-Bukhari no. 4425) Adapun pada riwayat lain dalam Sunan At-Tirmidzi disebutkan bahwa Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu berkata: عَصَمَنِي اللهُ بِشَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا هَلَكَ كِسْرَى. قَالَ: مَنْ اسْتَخْلَفُوا؟ قَالُوا: ابْنَتَهُ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً. قَالَ: فَلَمَّا قَدِمَتْ عَائِشَةُ يَعْنِي الْبَصْرَةَ ذَكَرْتُ قَوْلَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَصَمَنِي اللهُ بِهِ “Allah telah melindungiku dengan sesuatu yang telah aku dengarkan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika meninggalnya Kisra. Beliau berkata: ‘Siapa yang mereka angkat sebagai Kisra baru?’ Mereka berkata: ‘Putrinya.’ Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: ‘Tidak akan beruntung suatu kaum (bangsa) manakala menyerahkan urusan kepemerintahannya kepada seorang wanita’.” Kemudian Abu Bakrah berkata: “Ketika Aisyah datang ke negeri Bashrah, aku ingat ucapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan Allah melindungiku dengannya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2188, dan beliau mengatakan: “Hadits ini hasan shahih.”) Penjelasan Hadits Abu Bakrah adalah Nufai’ bin Harits Ats-Tsaqafi, meninggal pada tahun 52 H. Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu berkata: Musaddad berkata: “Abu Bakrah dan Hasan bin ‘Ali radhiyallahu 'anhuma meninggal pada tahun yang sama.” Kisra adalah Kisra bin Abrawaiz bin Hurmuz, raja Persia. Ia mempunyai anak laki-laki bernama Syairawaih. Syairawaih mempunyai anak perempuan bernama Buran. Adapun sebab diangkatnya Buran sebagai raja adalah ketika terjadi pemberontakan terhadap Kisra yang dipimpin oleh putranya sendiri (Syairawaih) hingga dia bangkit melawan ayahnya dan membunuhnya, lalu merebut kekuasaannya. Ketika ayahnya tahu bahwa anaknya berbuat demikian (menginginkan untuk membunuhnya), iapun melakukan siasat (tipu daya) untuk membunuh anaknya setelah kematiannya nanti, dengan menaruh racun pada sebagian lemari khusus. Dalam lemari tersebut diletakkan racun yang mematikan. Dan dia menulis di atasnya bahwa barangsiapa yang mengambil sesuatu dari lemari ini, ia akan memperoleh demikian dan demikian. Syairawaih pun membaca tulisan tersebut dan mengambil sesuatu yang ada di dalamnya. Inilah yang menjadi penyebab kematian Syairawaih. Dan ia tidak dapat bertahan hidup lama setelah ayahnya meninggal kecuali enam bulan saja. Ketika Syairawaih meninggal, tidak ada seorang pun saudara laki-lakinya yang menggantikan kedudukan raja, karena ia telah membunuh semua saudara laki-lakinya tersebut atas dasar ketamakan untuk menguasai tahta kerajaan Persia. Sehingga tidak ada seorang laki-laki pun yang menjadi pewaris kerajaan. Mereka juga tidak menginginkan tahta kekuasaan kerajaan jatuh kepada pihak lain, sehingga mereka mengangkat seorang wanita yang bernama Buran, anak Syairawaih, atau cucu Kisra. كِدْتُ أَنْ أَلْحَقَ بِأَصْحَابِ الْجَمَلِ فَأُقَاتِلَ مَعَهُمْ “Hampir-hampir aku bergabung dengan Ashabul Jamal (yaitu Aisyah dan orang-orang yang bersamanya) dan berperang bersama mereka.” Awal kejadiannya adalah ketika ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu 'anhu terbunuh dan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dibaiat menjadi khalifah. Keluarlah Thalhah dan Az-Zubair radhiyallahu 'anhuma menuju Makkah. Keduanya mendapati ‘Aisyah radhiyallahu 'anha yang baru saja menunaikan ibadah haji. Terjadilah kesepahaman di antara mereka untuk bergerak menuju Bashrah dan meminta bantuan manusia untuk menuntut atas kematian ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu 'anhu. Sampailah berita itu kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dan beliau pun keluar menyambut mereka dan terjadilah Perang Jamal, akibat upaya orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Dinisbahkan kepada Jamal (yaitu unta yang dijadikan tunggangan Aisyah radhiyallahu 'anha) dan beliau berada dalam sekedup (semacam tandu di atas punggung unta) sambil mengajak manusia kepada ishlah (perbaikan). قَالَ: لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى “Dia berkata: ‘Ketika disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa Kerajaan Persia telah mengangkat putri Kisra sebagai raja mereka’.” Yang berkata di sini adalah Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu. Perkataan ini sebagai penjelasan (tafsir) lafadz “kalimat” pada ucapan beliau: “Allah telah memberikan manfaat kepadaku dengan kalimat.” Di sini terdapat faedah tentang digunakannya istilah kalimat (kata) untuk mengungkapkan kalam (kalimat) yang banyak. لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً Dalam riwayat ini kalimat امْرَأَةً dengan berharakat fathah atau manshub karena berkedudukan sebagai maf’ul (obyek). Pada riwayat Humaid terdapat lafadz: وَلَى أَمْرَهُمُ امْرَأَةٌ dengan kalimat امْرَأةٌُ berharakat dhammah atau marfu’ karena berkedudukan sebagai fa’il (subyek). Dalam riwayat Al-Isma’ili dari jalan An-Nadhr bin Syumail, dari ‘Auf, di akhir riwayat terdapat tambahan: Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu berkata: “Dan saya mengetahui bahwa Ashabul Jamal tidak akan berhasil.” Al-Hafizh rahimahullahu berkata: “Ibnu Baththal menukil dari Al-Muhallab, yang nampak dari hadits adalah bahwa Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu terkesan menuduh dan merendahkan pendapat Aisyah radhiyallahu 'anha atas apa yang telah beliau perbuat. Namun tidaklah demikian perkaranya. Karena telah diketahui bahwa Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu sependapat dengan ‘Aisyah radhiyallahu 'anha dalam hal menuntut ishlah di antara manusia dan bukanlah tujuan mereka untuk berperang. Ketika perang berkecamuk, tidaklah orang yang bersamanya menjadi bagian dari perang tersebut. Dan Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu tidaklah mencabut kembali pendapat ‘Aisyah radhiyallahu 'anha, namun beliau berfirasat bahwa mereka tidak akan menang ketika melihat orang-orang bersama ‘Aisyah radhiyallahu 'anha di bawah perintahnya. Hal itu berdasarkan apa yang telah beliau dengarkan (yaitu dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: “Tidak akan beruntung suatu kaum (bangsa) manakala menyerahkan urusan kepemerintahannya kepada seorang wanita”).” Kemudian Al-Hafizh rahimahullahu berkata: “Dan yang lebih memperjelas perkara ini bahwa tidak seorang pun yang menukilkan bahwa ‘Aisyah radhiyallahu 'anha dan orang-orang yang bersamanya menentang kekhalifahan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Tidak pula mereka menyeru agar salah seorang di antara mereka untuk dipilih menjadi khalifah. Yang diingkari oleh Aisyah radhiyallahu 'anha dan orang-orang yang bersamanya terhadap ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu adalah larangan beliau radhiyallahu 'anhu membunuh orang-orang yang membunuh ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu 'anhu dan meninggalkan qishash. ‘Ali radhiyallahu 'anhu menunggu keluarga ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu 'anhu berhukum kepadanya dalam perkara tersebut. Dan apabila telah terbukti pada seseorang bahwa dialah pembunuh ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu 'anhu barulah ditegakkan qishash terhadapnya. Maka berselisihlah mereka karena sebab itu. Ketika orang-orang yang dinisbahkan perang kepadanya merasa khawatir bahwa mereka (pihak ‘Ali dan ‘Aisyah) akan berdamai, maka mereka pun mengobarkan peperangan, dan terjadilah apa yang terjadi. Ketika pihak ‘Ali radhiyallahu 'anhu menang, Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu pun memuji pendapatnya untuk tidak ikut serta perang bersama Ashabul Jamal meskipun pendapat beliau sama dengan pendapat Aisyah radhiyallahu 'anha, yaitu menuntut balas atas pembunuhan ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu 'anhu. Ibnu At-Tin rahimahullahu berkata: ‘Sebagian ulama berdalil dengan hadits Abu Bakrah ini tentang tidak bolehnya seorang wanita menjadi pemutus perkara. Dan ini pendapat jumhur ulama. Sebaliknya Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullahu berpendapat boleh bagi seorang wanita memutuskan perkara dalam hal yang persaksiannya diterima. Demikian pula sebagian pengikut Malikiyah membolehkan secara mutlak’.” (Fathul Bari, 13/69, 8/159-160) Al-Khaththabi rahimahullahu berkata: “Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa seorang wanita tidak boleh mengurusi pemerintahan dan putusan pengadilan. Tidak boleh pula baginya menikahkan dirinya sendiri ataupun menjadi wali nikah bagi orang lain.” (Tuhfatul Ahwadzi Syarh Jami’ At-Tirmidzi) Ibnu Katsir rahimahullahu berkata setelah menyebutkan ayat: الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللهُ وَاللاَّتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً إِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Maka wanita yang shalihah adalah wanita yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara mereka. Wanita-wanita yang kamu takutkan nusyuz-nya maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah di tempat tidur mereka dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu maka janganlah kamu mencari jalan untuk menyusahkannya.” Ayat ini menerangkan bahwa laki-laki adalah pemimpin atas wanita, yaitu dia sebagai pemimpin, pembesar dan penguasa serta pendidik bagi mereka, ketika terjadi kebengkokan pada wanita itu. Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan keutamaan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) yaitu karena laki-laki lebih utama dari wanita dan lebih baik. Karena itulah kenabian dikhususkan kepada kaum laki-laki. Demikian pula kekuasaan yang agung berdasarkan hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam: “Tidak akan beruntung suatu kaum manakala menyerahkan urusan kepemerintahannya kepada seorang wanita.” (HR. Al-Bukhari) Demikian pula dalam urusan hakim dan sebagainya. “Mereka dimuliakan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian harta mereka” yaitu berupa mahar, nafkah, dan beban yang Allah Subhanahu wa Ta'ala wajibkan atasnya untuk wanita sebagaimana yang disebutkan dalam Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya. Maka pada diri kaum lelaki terdapat keutamaan di atas kaum wanita. mereka memiliki keutamaan atas wanita dan pengutamaan, sehingga sangatlah selaras keberadaan (laki-laki) menjadi pemimpin atas wanita. “Dan laki-laki memiliki derajat lebih tinggi atas perempuan.” ‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma, maknanya adalah sebagai pemimpin-pemimpin atas para wanita, yaitu wanita menaatinya pada perkara yang Allah Subhanahu wa Ta'ala perintahkan. Dan bentuk ketaatan itu diwujudkan dengan cara seorang istri berbuat baik kepada suami serta menjaga hartanya. Demikian pula pendapat Muqatil, As-Suddi dan Adh-Dhahhak. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata: “Seorang wanita datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengeluhkan bahwa suaminya telah menamparnya. Rasulullah pun menanggapi dengan mengatakan al-qishash (dibalas). Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan ayat: “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita,” yaitu tanpa adanya qishash. (Tafsir Al-Qur`anul ‘Azhim, 1/465) Telah cukup jelas bahwa kepemimpinan dan kekuasaan tidak akan mungkin berakhir dengan keberuntungan jika yang memimpin atau yang berkuasa adalah seorang wanita. Tidak ada ruang bagi wanita untuk iri hati terhadap karunia yang telah Allah Subhanahu wa Ta'ala lebihkan pada kaum laki-laki. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: وَلاَ تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah Allah berikan bagi sebagian kamu atas sebagian yang lain karena bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan, mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An-Nisa`: 32) Al-Imam Ahmad rahimahullahu meriwayatkan dari Mujahid rahimahullahu, ia berkata: Ummu Salamah radhiyallahu 'anha berkata: “Wahai Rasulullah, kaum lelaki dapat berperang dan kita kaum wanita tidak. Bagi kita separuh bagian dari warisan kaum lelaki.” Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala turunkan ayat: “Dan janganlah kamu iri terhadap karunia yang telah Allah berikan bagi sebagian kamu atas sebagian yang lain.” Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: Seorang wanita datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata: “Ya Rasulullah, bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan, dan persaksian dua orang wanita sebanding dengan persaksian seorang laki-laki. Apakah dalam perkara amalan kami juga demikian? Jika ada seorang wanita berbuat kebaikan hanyalah dicatat untuknya separuh dari kebaikan tersebut?” Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala turunkan ayat: “Janganlah kamu iri terhadap karunia yang telah Allah berikan berikan bagi sebagian kamu atas sebagian yang lain.” Sesungguhnya ini adalah keadilan dari-Ku dan Aku yang membuatnya. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/462) Wallahu a’lam bish-shawab S

Sumber:http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=615

Messy

Ajari aku cara menghilang tanpa jejak'
Agar tak satu manusia pun sakit hati karenanya

Ajari aku cara melupakan sejenak bumi tuhan ini...


_Amorfati_

Menuju Ke Langit Saja!!!

aku ingin ke langit saja...
aku ingin menuju tempat liburan (mungkin) yang nyaman (sepertinya)
aku ingin terbang ke sana...
terbang...
sayap...
tunggu aku...
ku pasangkan dulu di punggung ku...

Tips anti bad mood

Tips anti bad mood :

1. pikirin yang seneng-seneng

2. pikirin yang seneng-seneng

3. pikirin yang seneng-seneng

4. pikirin yang seneng-seneng

5. pikirin yang seneng-seneng

6. tidur!

Iklan kok sinsir-sindiran??

Saya setuju dengan si bungkus terasi nan bau (dia mengritik tentang dunia periklanan yang saling sindir-sindiran dan sikut-sikutan dan apalah itu,, Hidup Terasi!)

Dunia periklan, seperti layaknya dunia jurnalistik. Mereka berdua sama-sama memiliki kode etik tersendiri. Jika saya tidak salah, maaf kalau kurang up to date, bahwa salah satu kode etik periklanan, untuk iklan yang disiarkan tentunya, adalah tidak adanya aksi saling menjatuhkan antara produk satu dan produk lain. Entah mengapa, orang Indonesia yang gemar menerobos lampu merah pada saat berkendaraan juga dengan senang hati menerobos aturan-aturan lain, baik aturan keseharian, maupun profesi. Lantas, apa gunanya si pembuat aturan? Aturan mereka memang sebagai pemanis saja, seperti aturan DILARANG MEMBUANG SAMPAH, mereka masih saja melemparkan sampah di mana-mana.

Intinya mah, mau judulnya kode etik atau tata tertib, yang namanya orang Indonesia ya sudah biasa melanggar.. hehehehe..

Saatnya BANGKIT INDONESIA!!!

"Tak Cukup Dengan Kritikan!"

   Kebebasan berpendapat di sebuah negara demokrasi merupakan hak yang hakiki bagi setiap individu. Bahkan, sejak dahulu telah tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 pada pasal 28. Tentu saja, dengan adanya basis atau landasan hukum yang kuat mengenai kebebasan berpendapat, bagi yang melanggarnya akan berurusan dengan badan hukum yang diberi nama oleh pemerintah Indonesia, KOMNASHAM.

   Tetapi, kebebasan pendapat yang seperti apa? Pendapat yang sejujur-jujurnya mengutarakan apa yang ada di pikiran mereka yang berpendapat terhadap suatu atau beberapa objek? Pendapat yang justru memotivasi atau dikatakan sebagai kritikan yang membangun? Atau pendapat yang hanya sekedar mengritik tanpa solusi atau bahkan bisa dijadikan sebagai alat akomodasi?

   Fakta yang terlihat saat ini adalah manusia cenderung mengritik tanpa terlebih dahulu memverifikasi suatu wacana atau suatu perspektif yang mereka cerna secara kasat mata. Apa yang menyebabkan kurangnya verifikasi atau pengetahuan terhadap suatu objek pada manusia? Faktor malas kah? Sehingga menyebabkan mereka seolah-olah tahu atau menjadi orang yang seolah-olah paling tahu, sehingga mereka dengan bebas mengritik. Padahal, mereka itu kosong belaka? Atau kah, mereka hanya tahu seperempat atau sebagian dari objek tersebut? Sehingga kritikan mereka tampak samar dan menghasilkan permasalahan baru lagi.

   Hanya beberapa dari sekian banyak manusia yang melakukan verifikasi terhadap suatu objek atau masalah yang ada di realitas kehidupan mereka kemudian memberikan kritik yang membangun dengan cara menghadiahkan sebuah solusi yang berisi. Tentu saja berisi ilmu, bukan sekedar suara dan omong kosong, bukan begitu?

   Maka dari itu, jelilah terhadap segala sesuatunya, sekali pun yang di depan kita adalah kabut. Siramilah diri dengan ilmu yang cukup untuk memudahkan verifikasi masalah. Jangan hanya mengritik yang masih samar atau mengritik karena ingin dilihat kritis padahal nol.

di posting dari blog ku di www.callmeai.wordpress.com

Tolongggg!!!

Adakah yang mau menolong saya dan sastri? Jika ya, lihat www.sas3egh4bergembira.blogspot.com..

baca

kemudian beri komen..

trima kasiiiihhhh teman2

Why should i..??

Bagaimana bisa hati ini menjadi begitu rapuh sementara Dia selalu memberi ku cinta?? Bagaimana bisa hati ini terlalu bersedih sementara ayat-ayat-Nya selalu berkumandang?? Bagaimana bisa hati ini terbagi ke dalam kisah dunia yang mengharu biru sementara Dia satu-satunya pemilik cinta yang kekal?? Bagaimana bisa??? Allahurabbi,, tolonglah hamba-Mu yang lemah ini!